93 million miles

Sebenarnya hal ini emang pengen ditulis sejak lama,semenjak kejadian nya terjadi,tapi karna beberapa tugas yang menumpuk lah lalu baru rabu kemarin di presentasiin dan kelar(alhamdulillah) dannnn sebagainya akhirnya sekarang lah baru bisa menuliskannya.huehehe
btw ada yang pernah dengan lgunya jason mraz yang judulnya 93 million miles,kebetulan saya suka banget dari dulu sama lagu itu,jadinya judul kali ini dikutip dari lagu jason mraz deh.
Seperti biasa ceritanya masih dengan konteks sebelumnya yang saya bahas (bukan postingan kuliah saya) 😀 beberapa bulan lalu lampu salah satu ruangan di rumah saya sedang mati,maybe ya karna umurnya yang udah abis,ya udah,saya keluar beli lampu lain di toko lampu,dari sekian banyak toko lampu entah kenapa saya malah tertarik menyinggahi toko lampu yang kali itu tidak ada penjaganya,setelah agak lama nunggu akhirnya muncul si penjaga, ibu ibu agak tuaan mungkin umur beliau udah kepala 5 an lebih,muka beliau masih terlihat segar,namun tidak dengan rambutnya,rambutnya agak sedikit banyak memutih di beberapa sisi (exactly itu yang saya ingat) sambal meminta maaf karna baru saja muncul,dan menanyakan apa keperluan saya,saya menjawab saya sedang lagi butuh apa,dan sebagai penjual beliau memberikan saya beberapa pilihan lampu(lampu kan banyak macemnya bruhh,watt maksudnya) disitulah awal pembicaraan saya dengan si ibu mulai,mulainya saat si ibu nanya,kuliah atau sekolah?saya jawab kuliah,dimana jurusan apa?trus saya jawab flatform tempat saya kuliah,dan jurusan saya,arsitektur.alu tanpa aba aba lagi beliau mulai nyerocos,”wah arsitektur ya,anak saya juga dulunya kuliah di UNL*M nak,tapi jurusan kedokteran umum” kata beliau lalu dengan cerita cerita beliau bagaimana anak pertama beliau masuk kedokteran,S1 lalu S2 diluar Kalimantan dan sampai akhirnya menikah,lalu anak kedua beliau juga yang kuliah kebidanan dan sempat kerja di salah satu rumah sakit di Kalimantan selatan,sampai akhirnya ia memutuskan juga mengikuti jejak kakanya untuk merantau ke pulau jawa,menyelesaikan studi s2 nya,cukup lama beliau bercerita terhadap saya,entah ada hal apa yang membuat ibu tersebut gembira bercerita tentang anaknya kepada saya,sebenarnya kalaupun ketika itu saya langsung membayar dan berlalu pergi bisa saja,namun karna saya belum membayar ya sudahlah apa salahnya mendengarkan unek unek ibu ini.
Setelah puas mungkin beliau bercerita tentang anak beliau tersebut,beliau bilang ke saya”ibu tuh ada rasa bangga lo nak,syukur sama yang diatas,liat anak ibu tuh sukses sukses,jadi dokter jadi bidan ya seenggaknya anak lah biar sukses,kalo saya enggak anak saya juga enggak papa” “ibu gak segan segan klo ngeluarin duit buat anak ibu sukses,ya kan kenapa enggak,supaya dia enak kedepannya” dan banyak hal yang saya lupa persis kata katanya namun tetap mengisaratkan tentang rasa bangga beliau terhadap anak beliau saya saat itu Cuma bertanya apakah beliau sendiri yang menjaga toko namun beliau jawab kalau beliau menjaga bersama anak beliau yang ketiga.
Namun ada hal yang menjanggal bagi saya dengan air muka ibu tadi,disisi beliau bangga dengan pencapaian kedua anak beliau atas karir yang mereka bangun ada hal lain yang kadang seorang ibu kebanyakannya segan untuk mengungkapkan ke anaknya bahwa rasa rindunya lebih besar dari pada segalanya,kenapa saya menyimpulkan seperti itu?karna begitilah faktanya,beliau sempat berkaca kaca,namun kurang kentara saat menyebutkan kalau anak beliau jarang pulang dikarnakan tanggung jawab pekerjaannya,sampai saya pulang pun saya berpikir,kadang kita sebagai anak di masa sekarang sering sekali lupa dengan keadaan orang tua di rumah,entah dalam hal finansial,waktu,batin,dan banyak hal lainnya,semua orang tua di dunia ini pasti mengharap kan atas kesuksesan kita suatu saat nanti,ya walaupun saya masih belum merasakan jadi orang tua sesungguhnya sperti apa,melihat kita memakai toga wisuda saat kita berhasil menyelesaikan pendidikan kita,ada rasa buncah yang membuat hormon bangga setiap orang tua naik,karna beliau ingin anak beliau mendapatkan hidup yang baik,yang mapan suatu saat nanti ketika anak mereka akan terjun ke dunia kerja,ditengah tengah masa sekarang dimana hal hal akademis memang menjadi momok kesuksesan seseorang di dunia kerja,begitupan di Indonesia,namun yang saya bahas bukan itu,melainkan adakah anak yang berpikir kalau keinginan seorang ibu pada hari tuanya adalah melihat anak anaknya mempunyai waktu dengannya bukan tentang melihat anaknya sukses jauh jauh,namun melupakan ibunya begitu saya?let me say,saya tidak mengatakan kalau anak ibu tersebut adalah anak yang kurang ajar karna lupa pulang,bukan tapi saya disini adalah ingin membagi makna cerita yang saya dapat dari sebuah arti yang saya dapat dalam setiap kejadian,dulu saya memang berpikiran seperti itu,kalau orang tua akan merasa senang jika anaknya bisa sukses saat nanti mereka tumbuh menua,namun setelah pertemuan saya dengan si ibu,saya memutar otak saya kembali,dan kesimpulannya adalah bahwa bukan karir anak mereka yang membuat setiap orang tua bangga pada masa tua nya,bukan tentang rekening mereka yang terisi banyak uang atas kerja keras anaknya,bukan tentang rumah atau mobil mewah yang anaknya berikan kepada mereka sebagai bentu terima kasih karna telah membesarkan mereka,karna yang sebenarnya mereka butuh adalah waktu,waktu kita untuk mereka berdua saat masa tuanya,bukan tentang kita yang hanya ada disamping beliau saat saat dimana mereka mengerang nyawa untuk terakhir kalinya,bukan saat dimana kita datang di hitungan detik nafas terakhirnya,namun lebih ke bagaimana kita sebagai anak dapat menyenangkan hati orang tua kita, membuatnya tertawa di hari hari tuanya,memasakkan makanan kesukaannya,bukankah itu juga sdh termasuk dalam berbakti ke orang tua?karna sebenarnya mungkin di dalam hati mereka ada banyak keinginan yang tersirat namun segan untuk mengatakannya.
Mungkin itulah yang sebenarnya terjadi saat ini,banyak ibu yang kadang segan untuk sekedar bilang ke anaknya bahwa seorang ibu itu rindu,dan banyak juga anak yang juga masih segan untuk bilang rindu,cinta,I Love U,aku sayang mama bapa ke orang tua,salah satunya saya,(pernah sih pernah walaupun lewat handphone),bukan karna saya malu atau apa,hanya kadang saya orangnya cengeng,takutnya malah nangis di pertengahan kalimat.
maka dari itu sejak saat ini yuk kita mulai untuk berusaha memberikan waktu untuk sekedar berkumpul ke keluarga kita 

n/b:tulisan ini hanya untuk pembelajaran semata bukan untuk menghakimi siapapun terima kasih yang telah menyempatkan membaca 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s