Dunia Tanpa Batas?

Jadi sekarang media sosial sudah mempengaruhi kita dalam hal apa saja?

Beberapa tahun belakangan kayanya social media sudah menjadi makanan kita sehari hari,dunia tanpa batas,mungkin itu salah satu kata yang mendeskripsikan nya,karna sampai saat ini gak ada satupun orang yang menemukan titik akhirnya.saya pun begitu sama seperti orang orang,social media masih saya akses setiap harinya.

Saya jadi ingat kira kira 2 tahun yang lalu,sesaat sebelum saya lulus dari SMA,sesaat saya sebelum dikukuhkan jadi alumni,salah satu petinggi pondok bilang”dunia luar itu jauh lebih sulit dari pada sekarang,ia penuh rintangan,maka yang kami harapkan adalah kalian yang bisa menjaga diri kalian sebaik mungkin”dan kata kata ini hampir setiap saat diberikan kepada kami.(oleh oleh utuk kelulusan?)
Saya gak pernah benar benar ngerti apa maknanya,dulu yang ada di pikiran kami hanya pengen lulus(iya,saya dan teman teman saya),kami bakal bebas dari rutinitas asrama-kelas-masjid,kami bakal bebas memilih apa yang kami mau setelah bertahun tahun ada di balik lingkungan yang hanya diisi dengan interaksi oleh kurang lebih 1500 santriwati.

Sampai saat ini,rasanya istilah”dunia luar itu penuh rintangan” rasanya baru saya rasakan,apalagi ditengah tengah berkembangnya social media,orang bebas mengekspresikan diri mereka disana,terutama dalam hal finansial,dimana zaman sekarang banyak orang berusaha menaikkan kualitas hidup nya agar di akui dalam kelompok kelompok tertentu maupun masyarakat atau mungkin dunia?(it can be), dimana uang bisa hilang dalam sekejap mata karna pengen ini itu, ,tak sedikit dari mereka memaksakan diri agar telihat menjadi orang yang “berada”(you know what I mean, ”high class”,maybe like that) di depan semua orang,untuk apa?untuk menjadi pusat perhatian,kalau di social media mungkin agar memperbanyak like,followers,atau pun komentar komentar bernada pujian,karna yang saya lihat sekarang orang “berada” adalah orang yang mendapat perhatian lebih dari publik itu sendiri.

Jika dibanding saat ini dan dulu,lebih bijak rasanya saat dulu,saat dimana saya pertama kali masuk salah satu pondok pesantren,dibanding teman teman SD saya,mereka di pondok pesantren bisa dibilang datang dari kota yang berbeda dan separonya adalah anak orang berada,entah itu anak DPR,anak pejabat,anak bos batu bara,anak ustadz terkenal,anak pedagang,dll,mau dijenguk pakai mobil seharga setengah M atau 1 M pokoknya mau sekaya apupun dia,dulu kami gak pernah peduli,bagi kami apapun yang kami lalui hari ini itu milik kami,mungkin karna kami diajarkan bagaimana caranya hidup sederhana,mungkin karna batasan batasan yang menjadi aturan hidup kami,mungkin karna memang kami dasarnya diajarkan dan dipaksa oleh pemikiran pemikiran dan lingkungan“semua orang sama” namun dibalik itu,hal itulah yang menumbuhkan nilai nilai positif yang kami pegang bertahun tahun.mau orangnya sekaya apupun kami diberi makan sama,kalau hari ini lauknya telor,maka semua kebagian telor,kalau salah seorang melakukan pelanggaran,maka ia mendapat ganjaran hukuman,gak pernah ada istilah anak DPR dikasih makan ayam sedangkan kami telor,gak ada istilahnya anak pejabat dapat keringanan hukuman hanya karna ia anak orang terpandang,tidak ada dan tidak pernah,jikalau harus berteman dengan anak yang mungkin ekonominya jauh dibawah sana,kami gak pernah sama sekali malu ataupun enggan,teman teman dekat saya pun bukan dari kalangan atas saja kalau bisa dibilang,kalangan bawah pun ada,dan sampai saat ini untungnya teman teman saya masih memegang teguh kesederhanaan,kalau emang kita hari ini gak bisa makan diluar sama sama,misalnya karna emang lagi bokek,yo wes makan mie instant pun jadi.

Dari hal hal yang saya lalui dahulu sampai sekarang inilah saya belajar jika memang kita saat ini ingin hidup kita bahagia,sesekali lihatlah ke bawah atau ke depan,sejatinya melihat ke ke bawah atau ke depan akan lebih bijak dari pada kita hanya mendongak melihat keatas saja,ibarat jalan kaki saja,tidak ada orang yang melihat jalan di atas,karna jika kita hanya menatap ke atas bagaimana kita tahu jika di depan kita ada genangan air atau lubang yang menganga besar?gak usah ditanya kita bakal bisa jatuh terjerembap kedalamnya,lain halnya jika kita melihat ke depan sambil sesekali melihat ke bawah,maka insyaallah kita akan selamat sampai tujuan.

dan rasanya tidak ada gunanya jika kita hanya melulu melihat kenyamanan dan kebahagiaan dari segi dunia berupa harta,atau kemewahan semata,siapa tau hidup orang yang kita inginkan nyatanya ia punya banyak permasalahan yang belum terselesaikan,tidak usah memaksakan hidup seperti hal nya orang lain punya,toh rezki kita sudah ada yang mengatur,tak perlu memaksakan diri agar diri kita diakui oleh sekelompok orang,percayalah teman yang baik tidak akan melihat kita dari apa yang kita punya,ia akan mau menerima kita apa adanya dengan tulus,toh kita juga sudah diakui dengan pasti,pertama,tuhan kita adalah zat yang akan selalu mengakui kita sebagai hambanya,dan kedua,nabi kita adalah orang yang selalu mengakui kita sebagai umatnya.

mengutip quote dari salah satu selebriti perempuan yang juga seorang pengusaha di amerika serikat, oprah winfrey,beliau pernah berkata
If you look what you have in life,you’ll always have more,if you look what you don’t have in life,you’ll never have enough

Nah,just like that.

Semoga bermanfaat 🙂

Iklan

8 Replies to “Dunia Tanpa Batas?”

  1. Kalau sosial media saya nggak terlalu aktif sehingga tidak tahu menahu apa saja kejadian di sana. Tapi memang, klo cuma sekadar mendapatkan pengakuan orang lain dan mengorbankan banyak hal, itu terlihat menyedihkan. Lebih baik tetap jadi diri sendiri apa adanya. Klo mau main, coba sesekali hitung semua nikmat yang ada di kehidupan kita, nanti pasti banyak2 memuji Tuhan 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s